WhatsApp, salah satu aplikasi pesan instan terpopuler di dunia, kini memperkenalkan fitur baru yang mengejutkan: iklan di Status. Langkah besar ini menandai perubahan besar dalam cara monetisasi platform milik Meta tersebut. Dengan lebih dari 2 miliar pengguna aktif, keputusan ini tentunya membuat penasaran banyak orang. Bagaimana cara kerjanya, apa saja fitur barunya, dan bagaimana efeknya terhadap pengalaman pengguna? Yuk, simak ulasannya berikut ini!
Apa Itu Iklan di WhatsApp Status?
Fitur “Status” di WhatsApp mirip dengan story di Instagram dan Facebook — pengguna dapat membagikan foto, video, atau teks yang hanya tayang selama 24 jam. Sekarang, Meta mulai menambahkan iklan singkat di antara status pengguna, persis seperti menjelajah story orang lain di Instagram.

Iklan tersebut akan muncul di sela-sela saat seseorang melihat rangkaian status dari kontak mereka. Misalnya, setelah melihat empat atau lima status dari teman, pengguna tiba-tiba melihat sebuah iklan pendek dengan label “Sponsored” atau “Disponsori.” Ini membuat platform tetap gratis sembari memberi peluang kepada bisnis untuk menjangkau audiens baru.
Menurut laporan internal Meta, uji coba awal dilakukan di beberapa negara seperti India dan Brasil — dua pasar utama pengguna WhatsApp. Tujuannya? Melihat bagaimana kebiasaan pengguna berubah saat iklan dimasukkan ke pengalaman sehari-hari mereka.
Secara teknis, pengguna tidak dapat mematikan iklan tersebut, mirip dengan iklan di YouTube atau Facebook. Namun Meta mengklaim bahwa iklan yang ditampilkan akan sangat tertarget, memanfaatkan data non-chat seperti nomor telepon, lokasi umum, dan interaksi bisnis sebelumnya.
Cara Kerja Iklan di WhatsApp Status
Bingung bagaimana iklan bisa muncul di aplikasi yang dikenal dengan privasi tinggi? Sebenarnya Meta menerapkan sistem canggih tanpa melanggar obrolan end-to-end encryption. Mereka tidak membaca pesan-pesan pribadi. Namun, mereka menggunakan insight dari fitur publik seperti Status, WhatsApp Business API, dan interaksi lainnya untuk menyusun algoritma iklan.
Berikut cara kerjanya:
- Targeting Berbasis Perilaku: Meta menggabungkan data dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp untuk memahami preferensi pengguna. Jika kamu sering melihat produk elektronik di Facebook, kemungkinan besar iklan gadget akan muncul di WhatsApp Status-mu.
- Tidak Gunakan Chat Pribadi: Semua obrolan tetap terenkripsi. Meta tidak membaca atau menyimpan isi pesan pribadi. Jadi, mereka memanfaatkan data seputar perilaku pengguna — seperti berapa status yang kamu lihat, waktu penggunaan, dan lokasi umum.
- Penggunaan WhatsApp Business: Akun bisnis dapat mempromosikan pesan mereka. Misalnya, toko online bisa memunculkan iklan diskon harian langsung di status pengguna yang follow akun bisnis tersebut.
Pengguna tetap akan melihat label bahwa itu adalah iklan, sehingga tidak tertipu mengira itu status teman. Selain itu, karena hanya berdurasi sekitar 5–15 detik, iklan ini tidak terlalu mengganggu dan dapat di-skip.
Data menarik: 78% pengguna di Brasil mengatakan bersedia melihat iklan jika aplikasi tetap gratis, menurut survei dari Statista tahun 2024.
Fitur Baru yang Menyertai Perubahan Ini
Pembaruan fitur iklan tidak datang sendirian. WhatsApp juga menghadirkan beberapa fitur pendukung yang memperkuat kehadiran iklan di Status, baik dari sisi pengguna maupun bisnis. Ini dia fitur barunya:
- Insight untuk Akun Bisnis: Fitur ini memungkinkan pemilik akun bisnis melihat siapa saja yang menonton iklan mereka, jam tayang terbaik, dan performa konten promosi. Ini seperti mini-analytics di dalam WhatsApp.
- Call-To-Action Langsung: Dalam iklan, pengguna bisa langsung klik “Beli Sekarang” atau “Kunjungi Website” yang terintegrasi dengan WhatsApp Web atau aplikasi toko pihak ketiga.
- Fitur Swipe Up: Seperti Instagram Story, kini juga bisa di-swipe up untuk melakukan tindakan tertentu seperti pesan otomatis ke akun bisnis atau membuka halaman promo.
- Customization Audience: Bisnis dapat menentukan siapa saja target dari promosi mereka — berdasarkan wilayah, bahasa, jenis perangkat, hingga waktu aktif pengguna.
Pengalaman pribadi: Saat mencoba versi beta di India, beberapa pengguna menyatakan bahwa iklan yang muncul cukup relevan dan tidak mengganggu. Bahkan, pengguna tertentu malah menemukan produk lokal yang sebelumnya belum pernah mereka tahu.
Kelebihan & Kekurangan WhatsApp Status Ads
Tentu, kehadiran iklan di WhatsApp akan mengundang pro-kontra. Berikut kami rangkum dalam tabel agar lebih mudah dimengerti:
| Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|
| Aplikasi tetap gratis tanpa membebani pengguna | Mengurangi pengalaman pengguna yang ingin bebas iklan |
| Memberi peluang promosi bagi UMKM dan bisnis lokal | Potensi misuse oleh spammer atau promosi yang tidak relevan |
| Iklan bisa disesuaikan agar relevan ke pengguna | Privasi pengguna bisa saja rentan, walau tidak dari isi pesan |
Walau begitu, sejauh ini Meta mengklaim telah mematuhi kebijakan privasi data dengan ketat, dan menjanjikan bahwa WhatsApp akan tetap terenkripsi secara menyeluruh.
Q&A: Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apakah iklan di WhatsApp bisa dimatikan?
Tidak, pengguna tidak bisa menonaktifkan iklan di Status, namun jenis iklan dipersonalisasi agar lebih relevan.
2. Apakah isi pesan akan digunakan untuk iklan?
Tidak. Semua pesan di WhatsApp tetap terenkripsi end-to-end. Iklan hanya menggunakan data dari interaksi non-pribadi seperti status, lokasi umum, dan akun bisnis.
3. Apakah fitur ini berlaku global?
Meta mulai menggulirkan fitur ini secara bertahap di India, Brasil, dan beberapa negara Eropa. Global release dijadwalkan pada akhir tahun 2025.
4. Apakah pengguna akan dapat melaporkan iklan yang tidak relevan?
Ya, pengguna bisa menekan “Laporkan” pada iklan yang mengganggu atau tidak sesuai, dan mereka akan diaudit oleh tim Meta.
5. Bagaimana cara bisnis memanfaatkan fitur ini?
Bisnis perlu mendaftar melalui WhatsApp Business API dan membuat kampanye iklan yang bisa ditayangkan di status pengguna yang relevan.
Kesimpulan
Keputusan WhatsApp memperkenalkan iklan di status membuka bab baru dalam monetisasi platform ini. Di satu sisi, langkah ini memperluas peluang promosi bagi bisnis, terutama UMKM, dengan biaya lebih terjangkau dibanding Instagram ataupun Facebook Ads. Di sisi lain, pengguna harus mulai terbiasa dengan munculnya konten promosi saat mereka menjelajahi status teman atau keluarga.
Kami telah membahas cara kerja iklan ini, fitur-fitur baru yang menyertainya, dan dampaknya bagi pengguna serta pelaku usaha. Meskipun tidak semua orang menyambut perubahan ini dengan antusias, nyatanya banyak manfaat tersembunyi jika eksekusinya dilakukan secara etis dan transparan. Jika Anda adalah pemilik bisnis, ini saat yang tepat untuk menjajal fitur iklan ini sebagai media promosi baru yang lebih personal dan langsung ke target audiens.
Untuk pengguna awam, jangan khawatir. Selama penggunaan data dijaga aman dan konten iklan tetap relevan, pengalaman menggunakan WhatsApp tak akan terlalu terasa terganggu. Bahkan, siapa tahu Anda justru menemukan produk baru yang sesuai kebutuhan hanya lewat status teman Anda!
Sudah siap mencoba fitur baru ini? Yuk, upgrade WhatsApp kamu ke versi terbaru dan rasakan sendiri bagaimana iklan hadir di platform paling personal ini. Dan bila kamu pemilik bisnis, coba lihat peluang ini sebagai tonggak baru dalam pemasaran yang lebih intim dan interaktif.
“In every change, there’s a hidden opportunity. Find it and build something valuable.”
Kalau menurut kamu, iklan di WhatsApp ini ganggu atau justru bermanfaat? Yuk, komentar di bawah dan share pendapatmu!
Sumber:
– Meta Newsroom. (2025). “Introducing Ads on WhatsApp Status”.
– Statista. (2024). “Global WhatsApp User Statistics”.
– TechCrunch. (2025). “WhatsApp Rolls Out Status Ads in Select Markets”.
– [https://www.whatsapp.com/business/](https://www.whatsapp.com/business/)



